Minggu, 12 Oktober 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Just in-time (JIT) adalah sebuah filosofi pemecahan masalah secara berkelanjutan dan memaksa yang mendukung produksi yang ramping (lean). Produksi yang ramping (lean production) memasok pelanggan persisi sesuai dengan keinginan pelanggan pelanggan ketika pelanggan menginginkannya, tanpa pemborosan, melalui perbaikan berkelanjutan. Produksi lean dikendalikan oleh “tarikan” yang berupa pesanan pelanggan. JIT adalah sebuah ramuan utama dari produksi lean menopang keunggulan bersaing dan menghasilkan keuntungan keseluruhan yang lebih besar.
Dengan JIT, persediaan dan komponen “ditarik” melalui sebuah sistem untuk tiba dimana dan kapan diperlukan. Ketika unit yang baik tidak datang saat diperlukan, berarti sebuah “masalah” telah diidentifikasi. Hal ini menjadikan JIT sebagai alat yang sempurna untuk membantu para manajer operasi membari nilai tambah dengan menghilangka pemborosan dan variabilitas yang tidak dikehendaki. Karena tidak ada kelebihan persediaan atau kelebihan waktu di dalam sistem JIT, biaya yang berhubungan dengan persediaan tidak diperlukan dihapuskan dan throughput diperbaiki. Sebagai konsekuensinya, manfaat JIT terutama sekali sangat menolong dalam mendukung strategi respon cepat dan biaya rendah.
1.2     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya yakni:
1.      Apa yang dimaksud dengan prosuksi ramping dan sistem produksi toyota?
2.      Bagaimana menentukan jumlah kartu kanban atau kontainer?
3.      Bagaimana sasaran kemitraan JIT?
4.      Apa yang dimaksud dengan tata letak JIT dan dampaknya pada karyawan?
5.      Bagaimana pengimplementasi JIT dalam sektor jasa?
1.3     Tujuan
Setelah membaca makalah ini diharapkan mahasiswa mampu:
1.      Mendefinisikan JIT dan sistem produksi ramping (lean)
2.      Mengidentifikasikan kanban atau kontainer
3.      Menjelaskan kemitraan JIT
4.      Menguraikan sistem produksi lean




BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Produksi Ramping
Produksi yang ramping (lean) dapat dilihat sebagai hasil akhir dari sebuah Funsi MO yang berjalan dengan baik. Perbedaan utama antara JIT dengan produksi lean adalah JIT merupakan sebuah filosofi perbaikan berkelanjutan dengan fokus internal, sementara produksi lean memulai secara eksternal dengan fokus pada pelanggan. Memahami apa yang pelanggan inginkan dan memastikan input dan umpan balik pelanggan adalah titik awal bagi produksi lean. Produksi lean berarti mengidentifikasi nilai pelanggan di masa datang dengan menganilisis semua aktifitas yang diperlukan, dan melakukan optimasi proses secara keseluruhan sesuai dengan pandangan pelanggan. Manajer menemukan apa yang dapat memberikan nilai bagi pelanggan dan apa yang tidak.
2.2     Sistem Produksi Toyota
Produksi lean terkadang disebut sebagai Sistem Produksi Toyota (Toyota Production System-TPS), dengan Eiji Toyota dan Taiichi Onho dari Toyota Motor Company yang diberi pujian atas pendekatan dan inovasinya. Jika memang terdapat perbedaan di antara JIT, produksi lean dan TPS adalah bahwa JIT menekankan perbaikan yang berkelanjutan, sementara produksi lean menekankan pemahaman pelanggan, dan TPS menekankan pembalajaran dan pemberdayaan karyawan pada sebuah lingkungan lini perakitan. Dalam praktik, terdapat sedikit sekali perbedaan dan istilah ini seringkali digunakan secara bergantian.
Pada dasarnya, lean berpusat pada “mendapatkan nilai dengan sesedikit mungkin pekerjaan”. Lean manufaktur merupakan filosofi yang dikembangkan oleh Toyota Production System. TPS dikenal karena fokusnya mengurangi pemborosan atau yang dikenal dengan istilah “MUDA” (bahasa jepang), untuk meningkatkan nilai pelanggan secara keseluruhan, namun ada beberapa perspektif tentang cara pencapiannya.
Gambaran
Prinsip lean datang dari industri manufaktur Jepang. Istilah ini dicetuskan oleh John Krafcik tahun 1988 dalam artikel berjudul “Triumph Of the Lean Production System” yang dipublikasikan dalam Sloan Management Review.
Istilah lean juga sering diartikan sebagai kumpulan dari “peralatan” yang membantu untuk mengidentifikasi dan mengurangi pemborosan kualitas produk akan meningkatkan waktu produksi serta biaya produksi akan dapat dikurangi. Contoh “peralatan” dari lean adalah Value Stream Mapping (VSM), Metode 5R, Kanban, serta Poka-yoke.
Hal kedua yang diperkenalkan Toyota yang berhubungan dengan lean adalah meningkatkan aliran atau kelancaran pekerjaan, dengan cara mengurangi ketidakseimbangan yang dikenal dengan istilah “MURA” (bahasa jepang). Teknik untuk memperbaiki aliran ini termasuk leveling produk, sistem “pull” (tarik) dan Heijunka box.
Toyota memandang bahwa lean bukan hanya sekedar peralatan, namun pengurangan tiga jenis pemborosan yakni “muda” (pekerjaan yang tidak memberi nilai tambah). “muri” (pekerjaan yang berlebihan) dan “mura” (ketidakseimbangan), dengan menemukan masalah secara sistematik.
2.3     Kanban
Kanban adalah kata dalam bahasa jepang yang berarti kartu. Dalam usaha mereka untuk mengurangi persediaan, orang jepang menggunakan sistem yang “menarik” persediaan di seluruh pusat kerja. Mereka sering menggunakan istilah “kartu” untuk memberikan isyarat akan kebutuhan kontainer material berikutnya-maka disebut kanban. Kartu menjadi otorisasi bagi kontainer material berikutnya untuk diproduksi.
Sistem kanban bisa dijumpai pada supermarket di lingkungan Anda: pelanggan membeli: pegawai gudang mengamati rak atau menerima pesanan dari daftar penjualan di akhir hari (end-of-day) dan melakukan pengisian persediaan ulang. Saat persediaan terbatas, bila ada, di tempat penyimpanan toko habis, maka isyarat “tarik”  akan dikirim ke gudang, distributor, atau pabrikan untuk memasok kembali, yang umumnya terjadi pada malam itu juga.  Faktor yang mempersulit sebuah perusahaan manufaktur adalah kebutuhan akan adanya proses manufaktur (produksi) yang nyata.
Beberapa tambahan mengenai kanban yang dapat berguna:
·         Ketika pemakai dan produsen tidak berada dalam kontak visual, sebuah kartu mungkin dapat digunakan cara yang lain, sebuah cahaya atau bendera atau tanda kosong di lantai mungkin cukup memadai.
·         Karena sebuah stasiun tarik mungkin memerlukan beberapa komponen yang perlu dipasok ulang, beberapa teknik kanban tarik dapat digunakan untuk produk yang berbeda pada stasiun tarik yang sama.
·         Pada umumnya, setiap kartu mengendalikan sejumlah tertentu atau komponen yang spesifik, walaupun berbagai sistem kartu digunakan jika sel kerja produksi menghasilkan beberapa komponen atau jika ukuran lot berbeda dengan ukuran yang dipindahkan.
·         Dalam sebuah sistem MRP jadwal dapat dilihat sebagai perintah yang “dibuat” dan kanban sebagai jenis sistem “tarik” yang memulai produk yang sebenarnya.
·         Kartu kanban menyediakan sebuah pengendalian langsung (batas) dari jumlah barang setengah jadi di antara sel.
·         Jika terdapat kawasan penumpukan barang yang berdekatan, maka sebuah sistem dua-kartu dapat digunakan-sebuah kartu beredar di antara pemakai dan kawasan penumpukan barang, dan yang lain beredar di antara kawasan penumpukan barang dan area produksi.
Gambar di atas adalah diagram titik persediaan keluar dengan tanda isyarat-peringatan.
2.4     Menentukan Jumlah Kartu Kanban atau Kontainer
Banyaknya kartu kanban, atau kontainer, dalam sebuah sistem JIT menentukan jumlah persediaan yang diperintahkan. Untuk menentukan banyaknya kontainer yang mundur dan maju di antara area penggunaan dan area produksi, pertama-tama pihak manajemen menentukan ukuran dari setiap kontainer. Hal ini dilaksanakan dengan cara menghitung ukuran lot, menggunakan sebuah model seperti model kuantitas dengan cara menghitung jumlah lot, menggunakan sebuah model seperti model kuantitas pesanan produksi. Pengaturan banyaknya kontainer yang melibatkan pengetahuan (1) lead time yang diperlukan untuk menghasilkan suatu kontainer komponen dan (2) jumlah persediaan pengaman yang diperlukan untuk menjaga ketidakpastian atau variabilitas dalam sistem tersebut. Banyaknya kartu kanban dihitung sebagai berikut:
Jumlah kanban (kontainer) =
                                                                        atau
                                               k =
Contoh:
Hobs Bakery menghasilkan kue jangka pendek yang akan dikirimkan ke toko bahan makanan Pemiliknya, Ken Hobbs, ingin mencoba mengurangi persediaan dengan beralih ke sistem kanban. Ia telah mengumpulkan data berikut dan meminta Anda untuk menyelesaikan proyek dengan memberitahukan kepadanya jumlah kanban (kontainer) yang diperlukan.
Permintaan harian (D) = 500 kue
Lead time produksi (L) = 2 hari
Persediaan pengaman (S) = ½ hari
Ukuran kontainer (yang ditentukan dengan basis ukuran pesanan produksi EOQ) = 250 kue
Jawaban
Permintaan selama lead time (= lead time x permintaan harian = 2 hari x 500 kue=) 1.000
Persediaan pengaman = 250
Jumlah kanban (kontainer) yang diperlukan =
                                                                        =
                                                                        = 5
2.5     Kelebihan Kanban
kontainer biasanya sangat kecil, pada senilai beberapa jam produksi. Sistem yang demikian memerlukan jadwal yang ketat. Jumlah kecil harus diproduksi beberapa kali dalam sehari. Proses harus berjalan lancar dengan variabilitas kecil dalam kuntitas lead time karena setiap kekurangan akan berdampak secara langsung pada sistem secara keseluruhan. Kanban memberikan penekanan tambahan untuk memenuhi jadwal, mengurangi biaya dan waktu yang diperlukan oleh setup, dan penanganan material yang hemat.
Apakah disebut kanban atau selainnya, keuntungan dari persediaan yang kecil dan penarikan material melalui pabrik yang dilakukan hanya ketika diperlukan sangat penting. Sebagai contoh, batch yang kecil menjadikan jumlah material yang cacat atau terunda yang sangat terbatas. Permasalahan tampak jelas dalam seketika. Banyak aspek persediaan yang tidak baik; hanya satu aspek-ketersediaan-yang baik. Diantara aspek yang tidak baik adalah kualitas buruk, keusangan, kerusakan, ruang yang penuh, aset yang mengikat, asuransi yang meningkat, penanganan material yang meningkat, dan kecelakaan yang terus meningkat. Sistem kanban menekankan semua hal negatif pada persediaan.
Sistem kanban di pabrik sering menggunakan kontainer standar dan bisa digunakan kembai untuk melindungi sejumlah tertentu yang akan dipindahkan. Kontainer seperti ini juga diperbolehkan dalam rantai pasokan. Kontainer yang terstandarisasi mengurangi beban dan biaya penjualan, menghasilkan lebih sedikit ruang yang terbuang dalam kereta gendeng, dan memerlukan lebih sedikit tenaga kerja untuk mengemas, membongkar, dan menyiapkan item.

2.6     Sasaran Kemitraan JIT
Empat sasaran kemitraan JIT adalah:
1.      Penghilangan aktivitas yang tidak perlu. Sebagai contoh, dengan adanya para pemasok yang baik, maka aktivitas penerimaan dan inspeksi berikutnya tidak diperlukan dalam JIT.
2.      Penghapusan persediaan di pabrik. JIT mengirimkan material ke tempat dan saat diperlukan. Persediaan bahan baku diperlukan hanya jika terdapat alasan untuk meyakini bahwa pemasok tidak dapat diandalkan. Demikian juga, bagian atau komponen harus dikirimkan dalam lot kecil secara langsung ke departemen yang akan menggunakannya ketika dibutuhkan.
3.      Penghapusan persediaan yang transit. General Motors pernah memperkirakan bahwa pada setiap saat, lebih dari setengah persediaannya berada dalam proses transit. Departemen pembelian modern saat ini menunjukkan pengurangan persediaan dalam transit dengan cara memberikan harapan kepada para pemasok dan calon pemasok untuk mengambil lokasi di dekat bangunan pabrik dan melakukan pengiriman kacil yang sering. Semakin pendek aliran material pada saluran sumber daya, semakin sedikit jumlah persediaan.
4.      Penghilangan para pemasok yang lemah. Ketika sebuah perusahaan mengurangi sejumlah pemasok, maka hal ini berarti meningkatkan komitmen jangka panjang. Untuk memperoleh kualitas dan keandalan yang terus meningkat, penjual dan pembeli memiliki kepahaman yang sama dan kepercayaan yang timbal balik. Mencapai pengiriman pada saat hanya bila diperlukan dan dengan jumlah yang dibutuhkan juga membutuhkan kualitas yang sempurna-atau sebagaimana yang juga dikenal sebagai cacat nol (zero defect). Tentu saja, baik pemasok maupun sistem pengiriman harus sempurna.
2.7     Perhatian para Pemasok
Untuk membangun kemitraan JIT, beberapa perhatian pemasok harus dijawab. Perhatian pemasok tersebut meliputi:
1.      Keinginan untuk diversifikasi. Banyak pemasok tidak ingin terikat dengan kontrak jangka panjang dengan hanya satu pelanggan. Persepsi pemasok adalah bahwa mereka akan dapat mengurangi risiko jika mempunyai beberapa pelanggan.
2.      Penjadwalan pelanggan yang lemah. Banyak pemasok hanya memiliki sedikit keyakinan pada kemampuan pembeli untuk mengurangii pesanan menjadi jadwal yang lancar dan terkoordinasi.
3.      Perubahan teknik. Perubahan teknik yang sering, dengan lead-time yang tidak cukup bagi para pemasok untuk menyelesaikan perubahan perkakas dan proses, merupakan malapetaka bagi JIT.
4.      Jaminan mutu. Produksi dengan tidak ada cacat, dianggap tidak realistis oleh banyak pemasok.
5.      Ukuran lot kecil. Para pemasok sering memiliki proses yang dirancang untuk ukuran lot besar dan melihat bahwa penyerahan yang sering kepada pelanggan dalam lot kecil sebagai cara untuk memindahkan biaya penyimpanan kepada pemasok.
6.      Kedekatan. Bergantung kepada lokasi pelanggan, penyerahan yang sering dari pemasok dalam lot kecil mungkin terlihat menjadi penghalang secara ekonomis.
2.8     Tata Letak JIT
Tata letak JIT (JIT layout) mengurangi bentuk lain pemborosan-yaitu, pergerakan. Bergeraknya material pada suatu lantai pabrik (atau kertas di kantor) tidak memberi nilai tambah. Sebagai konsekuensinya, tata letak fleksibel yang mengurangi bergeraknya orang dan material yang dibutuhkan. Tata letak JIT memindahkan material secara langsung ke lokasi yang diperlukan. Sebagai contoh, sebuah lini perakitan harus dirancang dengan titik penyerahan di dekat lini perakitan tersebut, sehingga material tidak perlu dikirimkan terlebih dahulu ke departemen penerimaan di tempat lain dalam pabarik, kemudian dipindahkan lagi. Inilah yang dilakukan VF Corporation’s Wrangler Division di Greensboro, North Carolina. Sekarang denim dikirimkan secara langsung ke lini perakitan. Di saat tata letak mengurangi jarak, perusahaan juga dapat menghemat ruang dan menghapuskan area potensial untuk persediaan yang tidak dikehendaki.
Berikut ini Taktik Tata Letak
1.      Membangun sel kerja untuk keluarga produk
2.      Memperkecil jarak
3.      Mendesain ruang berukuran kecil untuk persediaan
4.      Meningkatkan komunikasi karyawan
5.      Menggunakan alat poka-yoke
6.      Membangun peralatan yang fleksibel atau dapat dipindahkan
7.      Melatih silang para pekerja untuk menambah fleksibilitas
2.9     Dampak pada Karyawan
Karyawan yang bekerja bersama dilatih secara bersilang sehingga mereka dapat membawa efisiensi dan fleksibilitas pada sel kerja. Tata letak JIT menjadikan karyawan dapat bekerja sama sehingga mereka dapat menceritakan permasalahan dan peluang untuk perbaikan satu sama lain. Saat tata letak menyediakan operasi berurutan, umpan balik dapat segera didapat. Cacat adalah suatu pemborosan. Saat para pekerja menghasilkan unit satu demi satu, mereka menguji setiap komponen atau produk pada setiap langkah produksi berikutnya. Mesin dalam sel kerja dengan fungsi pengujian mandiri “poka-yoke” mendeteksi terjadinya cacat dan berhenti secara otomatis. Sebelum JIT ditetapkan, produk cacat digantikan, dan diambil dari persediaan. Karena kelebihan persediaan tidak dipertahankan pada fasilitas JIT, maka tidak terdapat penyangga seperti itu. Membuat produk secara benar pada pertama kali adalah hal yang kritis.
2.10   JIT Dalam Sektor Jasa
Semua teknik JIT dalam hubungannya dengan para pemasok, tata letak, persediaan dan penjadwalan digunakan dalam sektor jasa.
·         Pemasok
Seperti yang telah dicatat, hampir setiap restoran berhadapan dengan para pemasok dalam basis JIT. Yang tidak, pada umumnya gagal. Pemborosan sangat jelas-makanan terbuang dan pelanggan mengeluh.
·         Tata Letak
Tata letak JIT diperlukan dalam dapur restoran, di mana makanan dingin harus disajikan dingin dan makanan hangat disajikan hangat. Sebagai contoh, McDonald’s telah mengatur kembali tata letak dapurnya dengan biaya yang begitu besar untuk menghemat waktu proses produksi, sehingga mempercepat penyerahan ke pelanggan. Dengan proses yang baru, McDonald’s dapat menghasilkan hamburger pesanan dalam waktu 45 detik. Tata letak membuat perbedaan pada proses pengambilan bagasi pada perusahaan penerbangan, saat pelanggan mengharapkan tas bawaan mereka tepat pada waktunya (just-in-time).
·         Persediaan
Setiap pialang saham menurunkan persediaan hingga mendekati nol. Kebanyakan pesanan jual dan beli terjadi pada basis JIT karena sebuah pesanan jual atau beli yang tidak dieksekusi tidaklah dapat diterima oleh kebanyakan klien. Seorang pialang mungkin berada dalam masalah yang serius jika menahan sebuah perdagangan yang tidak dieksekusi. Dengan cara yang sama, McDonald’s mempertahankan persediaan barang jadi hanya 10 menit; setelah itu, dibuang. Rumah sakit juga menjalankan persediaan secara JIT dan persediaan pengaman yang rendah, bahkan untuk persediaan yang kritis seperti obat farmasi, dengan membangun jaringan komunikasi sebagai sistem cadangan. Dengan cara ini, jika sebuah apotek kehabisan obat yang diperlukan, maka anggota jaringan dapat menyediakannya pada pengiriman hari berikutnya.
·         Penjadwalan
Pada loket tiket perusahaan penerbangan, fokus sebuah sistem JIT adalah permintaan pelanggan, tetapi bukannya dipenuhi oleh persediaan produk yang berwujud, melainkan harus dipenuhi oleh karyawan. Melalui penjadwalan yang rumit, karyawan loket tiket perusahaan penerbangan muncul tepat waktu untuk dapat memenuhi permintaan pelanggan, dan mereka menyediakan pelayanan berdasarkan JIT. Dengan kata lain, karyawan dijadwalkan, dan bukannya “barang” yang disimpan sebagai persediaan. Penjadwalan karyawan merupakan hal yang kritis. Pada sebuah salon kecantikan, fokus hanya sedikit berbeda: pelanggan dijadwalkan untuk meyakinkan dilayani secara JIT. Dengan cara yang sama, McDonald’s sebagai restoran paling cepat saji, penjadwalan karyawan dihitung hingga setiap 15 menit berdasarkan pada prediksi permintaan yang akurat. Apalagi, produksi yang dilakukan dalam lot kecil untuk memastikan bahwa hamburger yang segar dan panas dikirimkan dengan tepat waktu. Singkatnya, baik karyawan maupun produksi dijadwalkan berdasarkan JIT untuk memenuhi permintaan tertentu.
Untuk mengirimkan barang dan jasa kepada pelanggan dalam permintaan yang berubah secara terus-menerus, para pemasok harus dapat diandalkan, persediaan yang ramping (lean), siklus waktu yang singkat, dan jadwal yang cepat. isu ini sekarang dikelola dengan sangat berhasil pada banyak perusahaan terlepas dari jenis produk mereka. Teknik JIT secara luas digunakan baik oleh perusahaan penghasil barang maupun jasa; mereka hanya terlihat berbeda.

BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan
JIT dan produksi lean merupakan filosofi dari perbaikan yang berkelanjutan. Produksi lean dimulai dengan fokus pada keinginan pelanggan, tetapi kedua konsep menfokuskan untuk memangkas semua pemborosan keluar dari proses produksi. Karena pemborosan ditemukan pada segala sesuatu yang tidak memberikan nilai tambah, maka organisasi JIT dan lean memberikan niali tambah secara efisien dibandingkan dengan perusahaan lain. Pemborosan terjadi ketika produk yang cacat diproduksi dalam proses produksi atau oleh para pemasok di luar. JIT dan produksi lean menyerang pemborosan waktu yang terjadi karena penjadwalan yang lemah; mereka menyerang pemborosan pada kosongnya persediaan; mereka menyerang pemborosan dari peralatan dan pemesinan yang kurang terpelihara. Harapannya adalah karyawan yang memiliki komitmen, diberdayakan, dan bekerja dengan para manajemen dan pemasok yang juga memiliki komitmen untuk membangun sistem yang memberikan respons terhadap pelanggan dengan biaya yang lebih rendah dan kualitas yang lebih tinggi.
3.2     Saran
Dari uraian makalah ini, penyusun merekomendasi pentingnya untuk menguasai sistem JIT dan produksi lean dalam mendukung perusahaan mengurangi atau bahkan meniadakan pemborosan karena adanya persediaan, karena persediaan dianggap dapat memberikan beban dan juga sistem JIT membantu perusahaan untuk mencapai skala efisiensi yang tinggi dan pentingnya bermitra dengan pemasok dalam meyediakan bahan baku material sehingga mencapai hubungan timbal balik yang saling menguntungkan guna menentukan keberhasilan JIT. 











DAFTAR PUSTAKA
Heizer, Jay dan Barry Render. Opertions Management 7edition (Bahasa Indonesia). Jakarta: Salemba Empat, 2005.
Chase, Richard B, F. Robert Jacobs dan Nicholas J. Aquilano. Operations Management for Competitive Advantage 11edition. New York: McGraw-Hill, 2006


Neraca Pembayaran Indonesia



Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
            Jembatan yang menghubungkan semua bagian terpisah dari ekonomi internasional adalah neraca pembayaran. Ini adalah suatu rangkaian perhitungan atau akun dalam perdagangan yang mencatat semua arus nilai yang berlangsung antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain. Memahami neraca pembayaran dengan demikian adalah juga kunci untuk memahami bagaimana orang memperdagangkan mata uang mereka sendiri untuk diperjualbelikan dengan mata uang negara lain. Bahkan arus perpindahan orang dari negara yang satu ke negara lain pun menunjukkan adanya neraca pembayaran itu, yaitu ketika orang-orang yang berpindah membeli barang atau mengirimkan kembali uang yang mereka peroleh dari negara tempat tinggalnya yang sekarang ke negara asal mereka.       
1.2 Rumusan Masalah
1.      Definsi dan struktur dari neraca pembayaran
2.      Jelaskan keseimbangan dalam neraca pembayaran
3.      Sebutkan beberapa pendekatan untuk penyusaian neraca pembayaran
4.      Jelaskan pengertian dari exchange rate (nilai tukar)
5.      Sebutkan sistem-sistem kurs dan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing
6.      Sebutkan resiko dari nilai tukar
7.      Jelaskan mekanisme penyesuaian harga dan pendapatan
8.      Jelaskan keseimbangan internal dan eksternal pada nilai tukar
9.      Jelaskan pengaruh kebijakan fiskal dan moneter terhadap nilai tukar
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini, yakni untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang neraca pembayaran dan pengaruh serta mekanisme yang ada pada neraca negara bagi suatu negara. Selain itu juga sebagai bahan referensi bagi mahasiswa dalam menulis makalah ilmiah.





Bab II
Pembahasan
2.1     Definisi Neraca Pembayaran
            Neraca pembayaran adalah suatu pembukuan yang menunjukkan aliran pembayaran yang dilakukan dari negara-negara lain ke dalam negeri, dan dari dalam negeri ke negara-negara lain. Pembayaran-pembayaran yang dilakukan tersebut meliputi penerimaan dari ekspor dan pembayaran untuk impor barang dan jasa; aliran masuk penanaman modal asing dan pembayaran penanaman modal ke luar negeri; dan aliran ke luar negeri dan aliran masuk modal jangka pendek (seperti mendepositkan uang di luar negeri). Dua neraca penting dalam suatu neraca pemabyaran adalah neraca perdagangan dan neraca keseluruhan. Neraca perdagangan menunjukkan perimbangan di antara ekspor dan impor. Sedangkan neraca keseluruhan menunjukkan perimbangan di antara keseluruhan aliran pembayaran ke luar negeri dan keseluruhan aliran penerimaan dari luar negeri.
Menurut IMF dalam Hadi (2002) neraca pembayaran adalah suatu catatan yang disusun secara sistematis tentang seluruh transaksi skonomi yang meliputi perdagangan barang atau jasa, transfer keuangandan moneter antara penduduk(resident) suatu negara dan penduduk luar negeri (rest of the world) untuk suatu periode waktu tertentu.
Batiz dan Batiz (1994) menyatakan neraca pembayaran merupakan suatu catatan atas semua transaksi antara penduduk domestik dan warga negara asing unruk periode tertentu, biasanya satu tahun. Pencatatan dilakukan dengan sistem double entry book keeping yaitu dengan menggunakan debit an kredit. Dengan total debit dan kredit yang telah diestimasi oleh suatu negara maka akan dapat diketahui apakah sebuah negara berada dalam posisi surplus atau defisit.
2.2     Struktur Necara Pembayaran
Ada beberapa bentuk strukutur neraca pembayaran. Dilihat dari strukturnya, neraca dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar, yaitu transaksi berjalan dan transaksi modal. Masing-masing komponen dalam kelompok terdiri dari sisi kredit dan debet. Sisi kredit mencatat transaksi-transaksi yang menimbulkan hak bagi penduduk suatu negara untuk menerima pembayaran dan sisi debet mencatat transaksi-transaksi yang menimbulkan kewajiban membayar bagi penduduk negara lain.

Secara garis besar struktur neraca pembayaran meliputi:
§  Current Account
Meliputi transaksi yang berkaitan dengan ekspor dan impor terhadap barang dan jasa. Melalui pos transaksi ini akan terlihat jelas apakah neraca perdagangan suatu negara surplus atau bahkan defisit.
§  Capital Account
Mencakup arus modal masuk sebagai inflow dan arus modal keluar (outflow). Adapun inflow dapat meliputi modal resmi maupun bentuk modal lainnya.
§  Errors dan Ommissions
Errors and Omissions sebagai kesalahan yang belum diperhitungkan atau kesalahan yang diabaikan. Pada model IMF (international monetrary fund) merupakan neraca penyeimbang yang memberi makna defisit atau surplus neraca pembayaran pada tahun pencatatan.
§  Reserve
Bahwa pada acara yang disajikan oleh IMF merupakan perkembangan cadangan devisa dari tahun sebelum pencatatan atau yang lazim dinyatakan sebagai monetary movement.
Susunan Struktur Neraca Pembayaran
A.     Transaksi Berjalan
1.      Perdagangan barang
a.       Ekspor
b.      Impor
2.      Jasa-jasa
a.       Terima (kredit)
b.      Bayar (debet)
3.      Penghasilan
4.      Transfer
B.     Lalu Lintas Modal atau Neraca Modal (Capital Account) dan Keuangan
1.      Transaksi Modal
2.      Transaksi Keuangan di Luar Cadangan Devisa
a.       Penanaman Modal Langsung
b.      Investasi Surat Berharga
c.       Investasi Lainnya
C.     Special Drawing Right (SDR)
D.     Jumlah (A + B + C)
E.      Selisih Perhitungan (Errors and Commisions)
F.      Lalu Lintas Moneter atau Cadangan Devisa
2.3     Keseimbangan Neraca Pembayaran
Neraca pembayaran harus selalu berada pada keadaan seimbang dengan saldo nol dimana penjumlahan di sebelah debit harus sama dengan di sebelah kredit.
Dalam mebahas keseimbangan neraca pembayaran, akan diuraikan keseimbangan dari masing-masing komponen neraca pembayaran.
·         Keseimbangan Transaksi Berjalam
Keseimbangan transaksi berjalan adalah keseimbangan yang dihitung dari transaksi barang, jasa, hasil modal dan transaksi unilateral. Taransaksi berjalan dinyatakan seimbang bila arus uang yang masuk sama besarnya dengan arus uang yang keluar akibat transaksi barang, jasa, hasil modal dan transaksi unilateral yang terjadi antar negara. Namun demikian, transaksi berjalan dapat defisit atau surplus.
·         Keseimbangan Transaksi Modal
Keseimbangan transaksi modal adalah keseimbangan yang dihitung dari transaksi investasi jangka panjang, investasi jangka pendek, pemindahan emas, dan transaksi pengangkutan mata uang. Neraca transaksi modal dinyatakan seimbang bila arus uang keluar untuk investasi jangka panjang, investasi jangka pendek, serta pemindahan asset dan tabungan sama besarnya dengan arus masuk dari transaksi-transaksi tersebut yang terjadi antar Negara. Akan tetapi, transaksi modal dapat mengalami defisit atau surplus.
·         Keseimbangan Neraca Pembayaran
Keseimbangan neraca pembayaran adalah keseimbangan yang terjadi akibat transaksi berjalan dan transaksi modal. Keseimbangan neraca pembayaran akan terjadi bilamana arus uang masuk yang terjadi akibat transaksi berjalan dan transaksi modal sama besarnya dengan aru uang keluar dari transaksi tersebut di atas yang terjadi antar Negara. Keseimbangan neraca pembayaran sebenarnya dapat terliat dari perubahan cadangan devisa resmi.
2.4     Pendekatan untuk Penyesuaian Neraca Pembayaran
·         Ada tiga pendekatan utama dalam penyesuaian neraca pembayaran yang telah dikembangkan oleh para ahli ekonomi, khususnya berkenaan dengan bagaimana cara memandang defisit. Pertama, pendekatan elasitisitas melihat defisit sebagai hasil dari distorsi harga relatif atau kurangnya kompetisi pasar. Penyesuaian seyogyanya dilakukan lewat depresiasi nilai tukar sesuai nilai elastisitas harga permintaan untuk kelebihan unit impor dan ekspor.
·         Kedua, pendekatan absorsi melihat defisit sebagai akibat dari kelebihan pembelanjaan atas output domestik, sehingga penyesuaian yang baik adalah menurunkan pembelanjaan secara relatif terhadap out-put.
·         Ketiga, pendekatan moneter memandang defisit sebagai suatu kelebihan suplai uang relatif terhadap permintaan, sehingga penyesuaian hanya bisa berhasil jika permintaan uang bisa dinaikkan secara relatif terhadap suplainya. Dalam banyak konteks, khususnya di negara-negara berkembang, barangkali tak satu pun dari pendekatan ini yang relevan karena ciri masalahnya adalah pada produksi barang dan ekspor, sehingga harga equilibrium neraca pembayaran selalu tumbuh dengan lambat. Ada yang berpendapat perlu dilakukannya penyesuaian struktural lewat perencanaan dan proteksi. Jika tujuan-tujuan ekonomi terpenting ingin dicapai secara serempak, penyesuaian yang diperlukan adalah yang langsung berkaitan dengan sumber ketidakseimbangan itu.
2.5     Pengertian Exchange Rate
Kurs (exchange rate) adalah pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, yaitu merupakan perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut.perbandingan nilai inilah sering disebut dengan kurs (exchange rate).
2.6     Sistem-Sistem Kurs
1.      Sistem standar emas (Gold Standart System) atau sistem kurs tetap (Fixed rate system).
Sistem standar emas (Gold Standard) mulai digunakan di Inggris tahun 1870, dimana masing-masing mata uang memiliki kandungan emas tertentu. Sebagai contoh £ 1 mengandung 4 gram emas, sedangkan US $ 1 mengandung 2 gram emas, maka £ 1 dapat dibuat kurs dengan US dollar sebesar $ 2 atau US $ 1 = £ 0,5. Dalam sistem standar emas kurs valuta asing relatif stabil, dapat berubah disekitar titik paritas arta yasa dan dibatasi oleh titik ekspor emas dan titik impor emas. 
            Dan penggunaan sistem ini terdiri dan empat macam kurs valuta asing, yaitu :
  • Kurs paritas arta yasa (Mint Parity), adalah kurs yang menunjukkan perbandingan kandungan emas yang diperoleh dengan menukarkan satu satuan uang suatu negara dengan sa¬tu satuan uang negara lain.
  • Kurs titik ekspor emas (Gold Export Point) adalah kurs valuta asing tertinggi yang terjadi dalam sistem standar emas
  • Kurs titik impor emas (Gold Import Point) adalah kurs valuta asing terendah yang terjadi dalam sistem standar emas.
  • Kurs valuta asing yang terjadi adalah kurs yang bergernak naik atau turun di sekitar kurs paritas arta yasa.
2.      Sistem Kurs Mengambang / Sistem Kurs Bebas (Floating Exchange Rate System)
Sistem kurs mengambang adalah suatu sistem devisa dimana kurs suatu mata uang dengan mata uang yang lain dibiarkan untuk ditentukan secara bebas oleh tarik menarik kekuatan pasar. Pada sistem ini keterkaitan sistem harga antan negara terbentuk, karena kurs beban dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan nilai mata uang dalam negeri yang dinyatakan dalam emas.
            Ada dua macam sistem kurs mengambang, yaitu :
  • Sistem kurs mengambang yang murni (Clean Float), adalah sistem kurs ,mengambang tanpa adanya campur tangan pemerintah (intervensi pemerintah). Pemerintah tidak berusaha untuk menstabilkan kurs valuta asing.
  • Sistem kurs mengambang kurang murni (Dirty Float atau Managed Floating Exchange Rate), adalah sistem kurs mengambang yang masih diintervensi oleh pemerintah atau penguasa moneter melalui pasar. Pemerintah secara aktif melakukan  upaya untuk menstabilkan kurs valuta asing.
3.      Sistem Kurs Tambatan (Paged Rate  System).
Dalam sistem kurs tambatan, mata uang yang dipergunakan dalam negeri merupakan mata uang yang tidak konvertabel terhadap emas. Seperti halnya dalam sistem pengawasan devisa, kurs valurta asing ditetapkan oleh pemerintah dan kuota valuta asing (Exchange Quota) tidak dipergunakan.
            Suatu negara menggunakan sistem kurs tambatan apabila memenuhi syarat-syarat pokok      sebagai berikut:

            a. Mata uang dalam negeri tidak konvertabel terhadap emas
            b.Tidak ada pembatasan mengenai penggunaan valuta asing
c. Kurs valuta asing ditentukan oleh pemerintah

4.    Sistem Kurs Mengambang Terkendali atau kurs yang distabilkan (Managed Float / Dirty Float)

Pada tahun 1972 sistem Bretton Woods mulai tidak berfungsi lagi, maka sistem moneter internasional yang digunakan oleh sebagian besar negara dunia sampai saat ini adalah Sistem Kurs Mengambang Terkendali. Dalam sistem ini pemerintah atau bank sentral tidak menetapkan secara tegas perbandingan mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Jadi penentuan kurs diserahkan pada kekuatan pasar. Namun bank sentral akan tetap melakukan pengawasan untuk mengatasi perubahan-perubahan yang mendadak dan yang dapat menguncangkan stabilitas perekonomian.


2.7     Faktor permintaan dan penawaran  valuta asing
Penentuan nilai mata uang asing dapat dibedakan menjadi dua pendekatan yaitu permintaan dan penawaran valuta asing.

            a. Permintaan Valuta Asing
            Keinginan penduduk suatu negara untuk memperoleh suatu jenis mata uang asing dapat dipandang sebagai permintaan valuta asing oleh penduduk negara itu.    Keinginan masyarakat yang bertambah besar untuk memperoleh barang dari suatu         negara akan menaikkan permintaan mata uang negara tersebut. Sebaliknya, jika tidak         ada keinginan untuk memperoleh barang dari suatu negara akan menurunkan     permintaan mata uang negara tersebut.

                b. Penawaran Valuta Asing
            Keinginan penduduk suatu negara untuk membeli uang rupiah merupakan penawaran        valuta asing. Keinginan itu menunjukkan banyaknya uang dolar yang akan digunakan     untuk membeli barang-barang buatan Indonesia. Misalnya, seorang Amerika ingin membeli sepotong kemeja batik sutera seharga Rp360.000,00. Berapakah harganya    dalam dolar Amerika? Untuk kurs US$1= Rp9.000,00, harganya adalah US$40, untuk      kurs US$1= Rp10.000,00 harganya adalah US$36, dan jika kursnya adalah US$1=       Rp12.000 kemeja batik tersebut harganya US$30. Semakin mahal harga mata uang    dolar, makin banyak penawarannya. Sebaliknya, jika harga dolar murah,             penawarannya semakin sedikit.
2.8     Resiko Valas
Risiko nilai tukar atau risiko mata uang adalah suatu bentuk risiko yang muncul karena perubahan nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang yang lain. Suatu perusahaan atau pemodal yang memiliki aktiva atau operasi bisnis lintas negara akan memperoleh risiko ini jika tidak menerapkan lindung nilai (hedging).
Risiko nilai tukar yang terkait dengan instrumen mata uang asing penting diperhatikan dalam investasi asing. Risiko ini muncul karena perbedaan kebijakan moneter dan pertumbuhan produktivitas nyata, yang akan mengakibatkan perbedaan laju inflasi.
Adanya resiko valuta asing juga berimbas juga pada perusahaan, yakni:
     1. Risiko Umum Kegiatan Valas
·                  Risiko mata uang : bila bank dalam posisi long / overbought dlm suatu mata uang dan         nilai tukarnya turun (depresiasi), maka bank akan menanggung kerugian.
·       Risiko liquiditas : pada saat kewajiban dalam mata uang jatuh tempo lebih cepat dari          aktivanya.
·       Interest rate risk : ada perubahan suku bunga.
·       Credit risk : bila nasabah gagal memenuhi kewajiban pada saat kredit jatuh tempo.

2. Risiko Nilai Tukar terdiri dari tiga jenis risiko:
·      Risiko Transaksi
            Merupakan potensi naik turunnya arus kas perusahaan (berkaitan dengan valuta asing)       akibat nilai tukar.
            Risiko transaksi nilai tukar berlaku untuk:
a.       Transaksi Masukan adalah transaksi yang menyebabkan masuknya uang                              perusahaan. Contoh; penjualan & investasi sekuritas.
b.      Transaksi Keluaran adalah transaksi yang menyebabkan perusahaan berkewajiban                membayar. Contoh; pembayaran impor bahan baku & pembayaran kewajiban.

3. Risiko Akuntansi (Risiko Transaksi atau Risiko Konsolidasi)
    Merupakan potensi fluktuasi laba perusahaan. Perusahaan yang bisa terkena risiko         akuntansi ada dua macam:
·      Perusahaan jenis pertama adalah mereka yang memiliki pinjaman/ asets dalam mata uang asing.
·      Perusahaan jenis kedua yang terkena risiko akuntansi adalah mereka yang memiliki cabang/ anak perusahaan di luar negeri.

4.    Risiko ekonomi merupakan potensi fluktuasi nilai perusahaan atau kekayaan pemegang saham akibat perubahan nilai tukar. Dengan kata lain, risiko ekonomi berkaitan dengan potensi fluktuasi pada eksposur korporat. Eksposur korporat berupa nilai perusahaan atau kekayaan pemegang saham. Bagi perusahaan yang telah go public, eksposur korporat tercermin pada harga saham. Karena harga saham merupakan objek yang perlu dikukur, dimonitor, dan dikendalikan terhadap resiko dan objek tersebut mencerminkan kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Nilai perusahaan atau harga saham tergantung pada dua variabel:ekspektasi arus kas dan factor diskon. Perubahan nilai tukar bias menyebabkan perubahan arus kas.
Dampak perubahan nilai tukar terhadap ekspektasi arus kas sangat beragam, tergantung    dari aktivitas perusahaan. Bagi perusahaan yang menggunakan bahan baku impor dan pembayaran dalam US$, sedangkan penjualan produk hanya di dalam negeri dalam pembayaran Rupiah, melemahnya Rupiah terhadap US$ berdampak sangat buruk. Ini sudah terbukti selama krisis sejak pertengahan tahun 1997. Karena beban pembayaran bahan baku impor meningkat, sedangkan nilai jual tidak meningkat seperti naiknya biaya bahan baku tersebut.
Sebaliknya, menguatnya Rupiah terhadap US$ menguntungkan pengguna bahan baku impor. Perusahaan dapat menghemat Rupiah untuk membayar bahan baku sementara penjualan konstan, atau bahkan meningkat. Akibatnya, ekspektasi keuntungan membaik dan ekspektasi arus kas juga membaik.
Berbeda bagi eksportir. Melemahnya Rupiah terhadap US$ justru menguntungkan perusahaan. Dengan penjualan yang sama dalam US$, pendapatan dalam Rupiah meningkat. Akibatnya, ekspektasi keuntunan meningkat dan ekspektasi arus kas juga meningkat. Dan juga sebaliknya.
Faktor diskon mencerminkan tingkat resiko perusahaan. Semakin tinggi persepsi mengenai tingkat risiko perusahaan, semakin tinggi juga faktor diskon. Dampaknya, nilai perusahaan atau harga saham semakin kecil.
Melemahnya Rupiah cenderung menyebabkan faktor diskon meningkat. Depresiasi Rupiah terjadi karena memburuknya kondisi ekonomi, bahkan juga memburuknya kondisi politik dan pemerintahan, keamanan, dan potensi ekonomi. Hal-hal tersebut menyebabkan hilangnya daya tarik investasi karena investor takut. Ketakutan tersebut kemudian tercermin dalam faktor diskon.

2.9     Mekanisme Keseimbangan Pendapatan

Adanya ekspor serta impor (yang besarnya tergantung atas pendapatan) sedikit menambah komplikasi model ekonomi makro dari Keynes. Keseimbangan pendapatan tercapai apabila jumlah pengeluaran sama dengan jumlah nilai yang dihasilkan. Hanya saja sekarang jumlah permintaan total tidak lagi sama dengan pengeluaran. Hal ini disebabkan karena adanya ekspor dan impor. Keseimbangan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :


Y = E + X – M

Ket. Y = Produksi nasional

E = Pengeluaran nasional (absorpsi).

Persamaan diatas dapat diartikan sebagai berikut :

Y = Permintaan agregat untuk produksi nasional (AD)

= E (Y) + X – M (Y)

E (Y) = Pengeluaran nasional yang besarnya tergantung dari pendapatan. Ketergantungan terhadap pendapatan ini disebabkan karena salah satu komponennya, yakni konsumsi (C) tergantung dari pendapatan. E(Y) terdiri dari konsumsi (C), investasi dalam negeri (Id), dan pengeluaran pemerintah (G).

Dengan modofikasi sederhana, persamaan tersebut di atas dirubah menjadi :

Y – C – G = (E – C – G) + (X – M)

S = Id + If

Persamaan terakhir menunjukkan bahwa tabungan (S) sama dengan investasi dalam negeri (Id) ditambah investasi luar negeri (If). Dengan demikian, keseimbangan pendapatan dapat pula berarti bahwa tabungan dikurangi investasi dalam negeri sama dengan invesatsi luar negeri .

S – Id = If = X – M

Persamaan ini menunjukkan bahwa dalam keadaan keseimbangan, S tidak perlu sama dengan Id dan juga X tidak perlu sama dengan M. Yang penting adalah kesamaan :

S – Id = X – M
2.10   Mekanisme Keseimbangan Harga
Mekanisme penyesuaian harga secara otomatis (automatic adjustment price mechanism) yaitu proses penyesuaian yang bertumpu pada perubahan – perubahan harga yang terjadi di negara yang mengalami deficit atau surplus, dan perubahan harga itulah yang menciptakan penyesuaian. Mekanisme ini sebagaimana dijelaskan oleh David Hume yang dikenal dengan “price specie flow mechanism” sebagai berikut. Ketika suatu negara mengalami defisit BOP, persediaan emas turun karena lari ke luar negeri. Larinya emas ke luar negeri berakibat turunnya money supply domestik yang disertai dengan turunnya harga-harga barang. Akibatnya, harga barang dalam negeri menjadi kompetitif yang pada gilirannya akan kembali meningkatkan ekspor pada kondisi semula atau bahkan lebih besar.
Mekanisme penyesuaian harga secara otomatis (automatic adjustment price mechanism) yaitu proses penyesuaian yang bertumpu pada perubahan – perubahan harga yang terjadi di negara yang mengalami deficit atau surplus, dan perubahan harga itulah yang menciptakan penyesuaian. Mekanisme ini sebagaimana dijelaskan oleh David Hume yang dikenal dengan “price specie flow mechanism” sebagai berikut. Ketika suatu negara mengalami defisit BOP, persediaan emas turun karena lari ke luar negeri. Larinya emas ke luar negeri berakibat turunnya money supply domestik yang disertai dengan turunnya harga-harga barang. Akibatnya, harga barang dalam negeri menjadi kompetitif yang pada gilirannya akan kembali meningkatkan ekspor pada kondisi semula atau bahkan lebih besar. 
2.11   Keseimbangan Internal dan Eksternal
Keseimbangan internal terjadi apabila terdapat keseimbangan di pasar dalam negeri, baik pasar barang (termasuk pasar tenaga kerja) maupun pasar uang. Sedangkan keseimbangan eksternal terjadi apabila neraca pembayaran internasional seimbang. Tujuan pemerintah selalu ingin mencapai kedua keseimbangan tersebut secara bersama-sama dengan melakukan berbagai kebijakan-kebijakan.
Swan Diagram
Diagram swan yang dikembangkan oleh Trevor W. Swan (1955) menunjukkan keseimbangan fundamental ekonomi makro internal dan eksternal.  Diagram swan ini digunakan untuk mengevaluasi perubahan ekonomi yang dihasilkan dari kebijakan yang mempengaruhi pengeluaran domestic atau relative permintaan untuk barang-barang asing dan domestic.

(Gambar diagram swan)

Pada diagram, menunjukkan sumbu horizontal adalah jumlah real domestic absorption, dimana adalah penjumlahan anata konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah. Sumbu fertikal menunjukkan nilai tukar riil, yang menunjukkan adanya peningkatan depresiasi riil yang dampaknya pada perbaikan persaingan internasional.
IB menunjukkan kombinasi nilai tukar dan domestic absorption, yang menunjukkan perekonomian berada pada keseimbangan internal dan posisi perekonomian berada pada fullemployment dan kestabilan harga dalam negri. Kemiringan negative (menurun) yang ditunjukkan olh kurva IB disebabkan oleh apresiasi nilai tukar dapat menurunkan ekspor dan meningkatkan impor. Maka untuk mempertahankan posisi tersebut, perlu mempertahankan sector domestic. Sebelah kanan kurva IB menunjukkan tekanan inflasi, hal tersebut disebabkan oleh pengeluaran domestic lebih besar dari pada yang dibutuhkan didalam mempertahankan fullemployment. Sebelah kiri IB menunjukkan deflasi, disebabkan oleh pengeluaran yang terlalu besar dari pada yang dibutuhkan.
Kurva EB juga menunjukkan kombinasi antara nilai tukar dan domestic absorption, yang menunjukkan perekonomian berada pada posisi keseimbangan eksternal, yaitu keseimbangan current account. Bentuk kemiringan kurvanya adalah positif, yang disebabkan depresiasi nilai tukar dapat mendorong ekspor dan sebaliknya, menurunkan impor. Cara mengatasi surplus pada current account, pengeluaran dalam sector domestic perlu ditingkatkan. Disebelah kanan EB, menunjukkan pengeluaran domestic lebih tinggi dalam mencapai current account, akibatnya current account menjadi deficit. Sebaliknya disebelah kiri EB, menunjukkan current account yang surplus.


                     (Gambar Diagram Swan)
Dua garis tersebut, mewakili masing-masing sisi internal dan eksternal.keseimbangan pada sumbu yang ditunjukkan pada gambar mewakili biaya domestic relative dan fiscal. Kedua instrument sama-sama dibutuhkan agar tujuan dapat tercapai. 

2.12   Kebijakan Moneter dan Fiskal

§  Karakteristik dan Ciri-ciri Pendekatan Moneter terhadap Neraca Pembayaran
Pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran internasional mempunyai tiga     karakteristik:
Pertama, pendekatan moneter menganggap ketidakseimbangan dalam neraca          pembayaran sebagai fenomena moneter yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan          stok antara permintaan dan penawaran uang. Kedua, pendekatan moneter menyatakan       bahwa tanpa adanya campur tangan pemerintah, ketidakseimbangan neraca pembayaran akan memulihkan persamaan antara permintaan dan penawaran uang. Dengan demikian, ketidakseimbangan neraca pembayaran bersifat sementara dan         akan menuju keseimbangan secara spontan dalam jangka panjang. Ketiga, pendekatan   moneter berlaku sama dalam kondisi kurs mengambang dan kurs tetap meskipun         proses masing-masing sistem berbeda (Salvator, 1998: 304).
            Hubungan Variabel Dependen dengan Variabel Independen
            1.      Hubungan antara Pendapatan Nasional (PDB) dan Neraca Pembayaran
                 Kenaikan Pendapatan Nasional (PDB) di suatu negara akan meningkatkan         permintaan uang (Md). Seandainya otoritas moneter di negara itu mempertahankan             komponen domestik dari basis moneter negara tersebut pada tingkat semula, maka    komponen luar negeri atau internasional dari basis moneter luar negeri negara itu            (cadangan devisa) pada akhirnya akan mengalami kenaikan atau dengan kata lain          neraca pembayaran negara tersebut mengalami surplus. Surplus neraca pembayaran        di negara itu akan menciptakan kelebihan stok penawaran uang, jika hal ini tidak      diimbangi atau dikoreksi oleh otoritas moneter negara yang bersangkutan, maka        akan tercipta defisit neraca pembayaran di negara tersebut.
            2.      Hubungan antara Tingkat Harga dan Neraca Pembayaran
                 Dalam teori kuantitas uang, perubahan jumlah uang yang beredar akan   mengakibatkan berubahnya tingkat harga yang searah dan proporsional dengan   perubahan jumlah uang yang beredar. Jika jumlah uang yang beredar bertambah      dengan 10% misalnya, maka tingkat harga akan bertambah dengan 10% juga.         Sedangkan surplusnya neraca pembayaran akan mengakibatkan bertambahnya jumlah uang yang beredar dan sebaliknya defisit neraca pembayaran akan         mengakibatkan berkurangnya jumlah uang yang beredar.
                 Sehingga dapat kita tarik kesimpulan bahwa surplusnya neraca pembayaran akan           mengakibatkan bertambahnya jumlah uang yang beredar dan meningkatnya jumlah             uang beredar ini akan mengakibatkan timbulnya kenaikan harga di negara yang       neraca pembayarannya surplus tersebut. Meningkatnya tingkat harga dalam negeri    yang biasa juga disebut inflasi, mengakibatkan produsen dalam negeri         kemampuannya bersaing melawan produsen negara lain menurun. Ini dengan sendirinya mempunyai tendensi mengakibatkan meningkatnya impor maupun             menurunnya ekspor, kedua-duanya merupakan unsur penyebab berkurangnya         surplus neraca pembayaran. Sebaliknya, defisit neraca pembayaran akan      menyebabkan berkurangnya jumlah uang yang beredar dan menimbulkan       menurunnya tingkat harga (deflasi). Deflasi yang terjadi di negara yang mengalami                  defisit neraca pembayaran ini bertendensi mengakibatkan bertambah kuatnya     kemampuan produsen dalam negeri dalam bersaing melawan produsen negara lain.            Ini dengan sendirinya bertendensi mengakibatkan meningkatnya ekspor dan      menurunnya impor.
                 Jadi, gejala inflasi yang ditimbulkan oleh surplusnya neraca pembayaran             bertendensi menghilangkan surplus. Sedangkan, deflasi yang terjadi di negara yang       mengalami defisit neraca pembayarannya bertendensi menghilangkan defisitnya.
            3.      Hubungan antara Tingkat Bunga dan Neraca Pembayaran
                 Perubahan tingkat bunga menghasilkan perubahan neraca pembayaran melalui    kelebihan Md dalam kondisi pendekatan moneter. Penurunan tingkat bunga         misalnya, menghasilkan surplus neraca pembayaran melalui kelebihan Md dalam    kondisi pendekatan moneter. Notasinya:
  (surplus)
                 Jika tingkat bunga turun, maka permintaan uang akan mengalami kenaikan karena         tingkat bunga berbanding terbalik dengan permintaan uang. Kelebihan stok           permintaan uang yang ditampung atau diimbangi oleh kenaikan aktiva internal dan       komponen eksternal dari penawaran uang akan menghasilkan surplus neraca                  pembayaran. Demikian pula sebaliknya, tingkat suku bunga yang lebih tinggi     dalam suatu perekonomian akan mengalirkan pinjaman dari luar negeri dan         memberikan surplus neraca pembayaran (pemasukan uang) kepada negara tersebut,          tetapi hanya dalam jangka pendek (misalnya, selama 1 tahun atau kurang). Dalam                  jangka panjang efek ini akan berhenti dan akan berbalik karena dua alasan.         Pertama, suku bunga meningkat yang lebih tinggi pada tahap awal akan menarik banyak arus masuk pinjaman luar negeri, karena para pemodal akan menyesuaikan pangsa kekayaan mereka dalam bentuk pinjaman dari negara yang bersangkutan.                  Meskipun demikian, arus masuk itu segera akan menjadi seret dan berbalik setelah         adanya penyesuaian. Kedua, jika suku bunga yang lebih tinggi dari suatu negara     berhasil menarik dana dari luar negeri dan dalam jangka pendek meningkatkan   neraca pembayaran, maka pasti ada efek sebaliknya di kemudian hari. Semua                  pinjaman harus dibayar kembali, jika suku bunga yang lebih tinggi sekarang       mengalirkan pinjaman bagi kita, maka pada masa yang akan datang kita harus    membayarkannya kembali dengan bunga. Kita tidak dapat menggunakan suku     bunga yang lebih tinggi sebagai alat untuk menarik modal (pinjaman) ke negara      kita tanpa mempertimbangkan kenyataan bahwa suku bunga yang lebih tinggi             tersebut harus dibayarkan bersama-sama dengan hutang pokoknya. Penarikan tambahan modal dari luar negeri merupakan beban bagi neraca pembayaran bahkan     beban tersebut dapat lebih besar daripada yang digunakan oleh suku bunga tadi.
            4.      Hubungan Kredit Domestik dan Cadangan Devisa
                 Komponen domestik dari basis moneter suatu negara merupakan kredit domestik          yang diciptakan oleh otoritas moneter negara yang bersangkutan, atau segenap aset domestik yang mendukung (memperbesar) penawaran uang di negara tersebut.    Sedangkan komponen luar negeri atau internasional dari basis moneter luar negeri       suatu negara merupakan cadangan internasional yang dimiliki oleh negara tersebut.        Cadangan internasional tersebut dapat diperbanyak atau dikurangi melalui surplus       atau defisit neraca pembayaran. Tatkala otoritas moneter di suatu negara mengubah   komponen domestik dari basis moneter (kredit domestik) negara tersebut, maka             otomatis akan terjadi perubahan dalam cadangan devisa/ cadangan internasional    dalam negeri tersebut dalam jumlah yang sama namun dalam arah yang     berlawanan, apabila pendapatan riil dan tingkat suku bunga konstan.
                 Sebaliknya jika terjadi pertumbuhan pendapatan riil, sementara tingkat harga dan          suku bunga konstan, maka kenaikan pendapatan tersebut harus diimbangi oleh kenaikan kredit domestik atau cadangan devisa atau kombinasi keduanya.       Seandainya pihak otoritas moneter di negara yang bersangkutan tidak                  meningkatkan kredit domestik, maka akan terjadi kelebihan permintaan uang yang        selanjutnya harus dipenuhi oleh arus masuk uang atau cadangan internasional yang     merupakan surplus bagi neraca pembayaran, jika negara tersebut beroperasi dalam        kurs baku.
§  Fiskal
            Dampak kebijakan fiskal ekspansif terhadap pendapatan, tingkat bunga dan nilai tukar      bergantung pada apakah kebijakan dilakukan secara permanen atau temporer. Jika     kebijakan dilakukan bersifat temporer, pergeseran ke kiriü kurva BOP relatif lebih    luas, karena perkiraan depresiasi dimasa depan juga sementara, dan pergeseran kurva         IS ke kiri juga relatif lebih kecil karena surplus BOP relatif lebih kecil, kebijakan    fiskal ekspansif kemudian secara substantial dapat meningkatkan pendapatan. Namun     jika kebijakan diperkirakan dilakukan secaraü permanen, pergeseran kurva BOP ke        kiri relatif lebih kecil dan pergeseran kurva IS ke kiri relatif lebih besar (Yarbrough &         Yarbrough, 2002).
            Kondisi tersebut akibat apresasi yang terjadi karena adanya efekØ25.  Crowding Out        dari kebijakan fiskal ekspansif yang menyebabkan naiknya tingkat bunga. Dengan             kondisi aliran modal tidak sempurna, naiknya tingkat bunga. akan mendorong aliran          masuk sehingga mata uang domestik mengalami apresiasi (kurs turun).  Apresiasi         membuat harga barang dan jasa domestik relatif lebihØ mahal dari pada harga barang        dan jasa luar negeri, menghasilkan pergeseran pengeluaran dari produk domestik ke      produk luar negeri, impor naik sehingga kurva IS kembali bergeser ke kiri, sehingga             pendapatan nasional turun. Dapat disimpulkan bahwa kebijakan fiskal ekspansif akan           efektif jika dilakukan secara temporer, dan kurang efektif untuk meningkatkan             pendapatan jika kebijakan dilakukan secara permanen (Yarbrough & Yarbrough,    2002).










Bab III
Penutup
3.1     Kesimpulan
Neraca pembayaran dari sebuah negara adalah suatu akun sistematis dari semua pertukaran nilai antara penduduk di negara itu dan penduduk negara lain selama suatu periode waktu tertentu. Dua arus terjadi dalam setiap pertukaran atau transaksi, menurut dasar-dasar pembukuan entri ganda. Sebuah kredit (+) adalah suatu arus pembayaran yang harus diterima oleh negara yang bersankutan. Sebuah debet (-) adalah suatu arus pembayaran yang harus dilakukan oleh negara bersangkutan. Arus-arus dalam transaksi-transaksi internasional dikelompokkan ke dalam lima kategori. Lima kategori arus, dengan beberapa subkategori pokok, adalah arus perdagangan barang dagangan, arus jasa, transfer unilateral, arus-arus modal swasta, dan arus aset pemerintah.
Kurs (exchange rate) adalah pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, yaitu merupakan perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut. perbandingan nilai inilah sering disebut kurs. Nilai tukar biasanya berubah-ubah, perubahan kurs dapat berupa depresiasi dan apresiasi. Pada dasarnya terdapat lima jenis sistem kurs utama yang berlaku yaitu sistem kurs mengambang (floating exchange rate), kurs tertambat (pegged exchange rate), kurs tertambat merangkak (crawling pegs exchange rate), sekeranjang mata uang (basket of currencies) dan kurs tetap (fixed exchange rate).












Daftar Pustaka
Lindert, Peter H. Ekonomi Internasional edisi 11. 1994. Jakarta: Bumi Aksara.